DEPOK, Suara Jabar News,- Sabarudin SH,Mhum selaku
Penasehat Hukum Terdakwa Walirahman menilai, kliennya menjadi terdakwa dijadikan korban atas adanya kedengkian serta tekanan oleh pihak pelapor, katanya saat ditemui awak media usai sidang acara pembelaan terdakwa di Pengadilan Negeri Kota Depok, Kamis (3/1/2018).

Menurut Sabarudin, kliennya terdakwa Waliarahman adalah berprofesi seorang guru bahasa inggris di SDN Tugu 10 Cimanggis itu telah dijerat kena pasal 82 undang – undang No/35/2014 tentang perlindungan anak dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) selama 14 tahun penjara itu tidak sesuai dengan fakta persidangan.

Menurutnya, JPU Andi Andika Desiyanti menangani kasus perkara terdakwa Waliarahman galau dan kurang cermat menangani proses hukum terdawa Waliarahman.

Dikatakan Sabarudin, sepatutnya pihak JPU melihat fakta Visum hasil dari pemeriksaan kedokteran, barulah diberikan tuntuan itu.
Kasus ini telah menjadi sorotan tajam ataa proses hukum yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri kota Depok, namun JPU juga jangan gampang membacakan dakwaannya, tanpa mempertimbangkan fakta hukum.

Sementara hasil visum dari kirban pelecehan seksual yang dikeluarkan oleh dokter kepolisian semua negatif, tapi kenapa Waliarahman dituntut ancaman hukuman 14 tahun penjara, ada apa dengan proses hukum klien saya heran penasehat hukum terdakwa.

Dalam.hal ini lanjut Sabar, JPU terlalu tendensius, sebab, kasus yang sama seperti ini, yang telah memiliki bukti rekaman vidio saja dituntut hanya 5 tahun, tapi kenapa terdakwa waliarahman yang nota bene bukti visum dokter tidak positif dikenakan tuntutan 14 tahun kurungan penjara ujar penasehat hukum sabarudin terheran.

Dirinya akui bahwa, JPU Andi Andika Desiyanti telah melakukan pembacaan tuntutan, meski yang dibacakan itu sama persis dengan dakwaan.

Namun JPU tidak melihat fakta persidangan yang sebenarnya, sehingga data atau berkas terdakwa yang dihadirkan saat dibacakan dalam persidangan hanyalah data yang dalam bentuk BAP bukan fakta yang sebenarnya.

Kami menilai JPU Andi Andika Desiyanti galau dan tidak cermat terkesan tidak profesional menangani kasus ini.
Selain itu, Sabarudin juga menilai dalam proses hukum terdakwa Waliarahman ditenggarai muatan kepentingan, terkesan ada kedengkian dari pihak terlapor.

Sabarudin berharap, majelis hakim yang dipimpin oleh Sri Rezeki Marsinta SH selaku Hakim Ketua bersama
Nanang Herjuanto SH Hakim Anggota, dan Darmo Wibowo SH, setta Sri Puji Sumaryanti sebagai Panitera Pengganti memiliki hati nurani, sesuai kepercayaan yang diyakini bahwa terdakwa akan dibebaskan dari jeratan hukum.

Meski proses awal dari penyidikan di Polisi Polresta Depok yang telah di P21 ke kejaksaan, kemudian telah menjadi perkara penting (Perkating) atas rentetan tuntutan (Rentut) oleh kejaksaan negeri kota depok, namun saya sebagai penasehat hukum, sangat peracaya, bahwa JPU bersama majelis hakim yang menangani kasus ini akan cermat dan penuh peetimbangan setelah membaca data fakta hukum terdakwa waliarahman.

Dengan adanya kejanggalan terhadap proses hukum klien saya yang adanya anggapan yang dijadikan klien saya sebagai tersangka tidak mengakui perbuatannya atas pelecehan seksual terhadap 15 anak siswanya, walau dibawah tekanan dan ancaman (red – sesuai visum fokter)

Dikesempatan itu, Ardiutoyo (58) selaku saksi terdakwa mengatakan, saya sangat percaya, majelis hakim akan adil mengambil keputusan, dan saya ingjnkan acuan kasus ini atas dasar fakta disidangkan.

Sementara, ibu dari orang tua Waliarahman itu merasa sedih dan penuh prihatin atas anaknya yang dianggap telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak didiknya itu.

Saya tidak percaya, dan tudingan perbuatan pelecehan seksual yang dilakukan waliarahman.

Anak saya telah banyak prestasi yang diukirnya disekolah SDN Tugu 10. Dia rajin sholat dan mengaji

Saat kuliah di UI, waliarahman sarjana Hhumonaniora menyandang kumlut.
Untuk itu, saya sebagai orang tua yang melahirkannya selalu memberikan semangat, jangan putus asa.

Kami percaya, yang menangani perkara kasus anak saya dapat melakukan sidang dengan seadil adilnya, karena anak saya merupakan korban opini yang diviralkan oleh orang yang dengki dan sangat tidak manusiawi tutupnya. (BENNY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here