MASPOLIN, Suara Jabar News.Com – Bila seseorang telah mengkonsumsi Narkoba, maka dirinya sudah dianggap mati.

Pengguna Narkoba yang mengkonsumsi dan masuk tahanan penjara untuk di bina mentalnya kembali, sepertinya sangat sulit disembuhkan.

Mengingat, narkoba yang masuk kedalam tubuh kita telah merusak sel serta pemikirian sudaj tidak normal, meski telah dilakukan terapi untuk penyembuhan.

Banyak faktor yang menyebabkan sesorang menjadi korban narkoba.

Selain faktor lingkungan pergaulan, rumah tangga dan hidup penuh dengan glamaour.

Jaringan narkoba sudah bukan saja masyarakat yang menjadi objek, namun telah menyusup hingga kesemua lini lembaga dan instansi pemerintah dan swasta.

Apa bangganya menjatuhkan hukuman mati pd terdakwa narkoba, kalau tidak dilanjutkan dengan eksekusi matinya. Belum lama ini PN Bengkalis Riau memvonis 3 terdakwa kasus narkoba dengan BB 55 KG Shabu dan 65.000 butir XTC. Pertanyaannya, kelanjutan dari vonis tersebut bagaimana.

Ada 91 narapidana tindak Pidana Narkoba yang sudah dijatuhkan vonis hukuman mati. Pemerintah kapan mau melaksanakan eksekusinya.

Setiap tahun narapidana narkoba yang divonis hukuman mati terus bertambah.

Mari kita berharap agar siapapun yang menjadi Presiden akan melaksanakan eksekusi mati tersebut.

Menurut Menkeu Sri Mulyani, narkoba merusak perekonomian Indonesia dengan jumlah peredaran uang hasil narkoba sebesar Rp 75 Trilyun dalam setahun. Seharusnya ini menjadi perhatian khusus dari pihak pemerintah. Rendahnya perhatian pemerintah pada bencana narkoba terlihat dari tidak masuknya materi mengenai pemberantasan narkoba dalam debat capres dan cawapres 2019.

Mungkin sudah tiba saatnya Presiden RI mengeluarkan PERPU tentang eksekusi terhadap Hukuman MATI.

Ketua Generasi Peduli Anti Barkoba ( GPAN )
Brigjend Pol (P) Drs Siswandi, menyampaikan kepada maspolin.
**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here