Suara Jabar News.Com, – Relevansi dari beragam bentuk gerakan bela bangsa yang sudah dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat saat untuk dimulai secara total dan serempak.

Lebih ideal lagi semua elemen yang mempunyai komitmen melakukan gerakan penyelamatan bangsa ini dapat bersatu, berhimpun mengusung tujuan yang sama, meski dengan cara yang berbeda.

Adakah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang pernah mengungkapkan gagasan besar ini, karena memang harus dilakukan secara bersama-sama segenap eksponen bangsa, lintas suku, lintas agama dan lintas disiplin ilmu serta lintas profesi pekerjaan, sehingga gerakan penyelamatan dan bela negara dapat serempak dan kompok dilakukan di semua lini dan semua sektilor kehidupan.

Karena itu gerakan bela bangsa harus berskala basional dengan memulai gerakan dari tingkat lokal (daerah), sehingga semua anak bangsa harus dan dapat terlibat di dalam gerakan bela bangsa yang bersifat semesta ini.

Pada level nasional gerakan dapat dibarengi dengan upaya mencari dan merumuskan secara terus menerus formula terbaik dari teknis dan taktis hingga model dan cara yang paling strategis guna melancarkan gerakan penyelanaran dan bela negara agar bisa kuat dan kokoh serta solid menggadapi segenap tarpaan yang tengah mengancang kehidupan berbangsa dan kehidupan bernegara kita.

Pancasila sebagai ideologi negara harus menjadi nafas setiap kehidupan seluruh warga bangsa tanpa kecuali, sehingga falsafah hidup setiap manusia Indonesia dapat ditilik dengan khas dijiwai oleh Pancasila. Oleh karena itu, UUD 1945 mutlak untuk dijadikan panduan — pakem — atau semcam rujukan utama yang tidah boleh diabaikan sedikit-pun.

Panggilan terhadap seluruh anak bangsa yang bersifat semesta ini agar dapat segera menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia yang tengah dalam ancaman pencaplokan kekuatan global yang sudah melancarkan straregi perang asimetris dengan melumpuhkan segenap sendi kehidupan kita yang vital, mulai dari pasar modern sampai pasar tradisional.

Mulai dari bidang jasa angkutan sektor penerbangnan, sarana transpotasi serta perbankan sudah menjadi target pemilik modal dari bangsa asing. Juga perusahaan BUMN sebesar PT. Krakatau Steel pun sedang jadi incaran.

Untuk lahan perkebunan agaknya telah menjadi senacam pengetahuan umum banyak dimiliki oleh bangsa asing, bukan lagi milik pribumi.

Padahal, bidang usaha pertambangan sudah sejak lama banyak yang telah nenjadi milik asing.

Yang justru sangat memprihatinkan adalah hampir semua kebutuhan hajat hidup orang banyak seperti yang sudah diwanti-wanti oleh UUD 1945, harus tetap dikuasai oleh negara, tatapi bisa berpindah tangan ke bangsa asing atau pada perusahaan asing.

Dalam bidang agama jelas umat sedang diadu domba, baik antara sesama umat beragama satu kepercayaan maupun sesama umat yang sama keoercayaannya.

Karena itu kesadaran umat beragama harus dibangun, jangan sampai termakan oleh hasutan atau semacam upaya untuk dibenturjan antara yang satu dengan yang lain, baik sesana umat satu agama maupun dengan penganut agama yang lain.

Idealnya kerukunan antara umat beragama di Indonesia dapat dijaga bersama dengan cara saling menghargai umat beragama yang satu denga umat agama yang lain.

Begitu juga dengan budaya tradisional kita yang cenderung ditinggal sama sekali karena dianggap tidak memiliki nilai-nilai yang baik dan nilai yang dapat dibanggakan.

Padal tidak sedikit diantaranta yang memiliki nilai luhur dan bergengsi karena tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Hingga pada akhirnya pun tradisi budaya kita yang diwariskan para leluhur itu menjadi punah, persis seperti ragam macam makanan khas kita yang justru lebih terjamin sehatnya untuk dikonsumsi oleh semua orang.

Akibatnya sekarang, karya seni dan budaya kita yang khas seperti ragam macam menu makanan serta minuman yang dapat kita buat sendiri menjadi seperti tidak bergengsi.

Jadi ada semacam stigma jelek dan buruk serta tidak bergengsi atau semacam rendah diri jika kita masih memakai atau mengkonsumsinya sampai hari ini. Bahkan lebih suka dikesankan puritan atau dianggap manusia ortodok.

Ragam macam menu makanan dan minuman tradisional kita khas dari berbagai daerah, seperti kredok, pepes ikan atau pepes tahu, potok, gudeg, lemang sampai kopi luak, bandrek, bajigur dan tek jahe mengapa tidak dilestarikan sehingga dapat ikut menyangga ketahanan serta pertahan pangan kita agar tidak tergantung pada impor. Karenanya, pemberdayan masyarakat petani dan nelayan kita harus mendapat dukungan penuh oleh pemerintah dan masyarakat untuk hanya mengkonsumsi produksi anak bangsa kita sendiri.

Maka itu, petani jagung dan kedele hingga garam harus dihasilkan sendiri oleh petani dan nelayan kita sendiri.
Sebab hasil pertanian dan laut kita sangat potensial untuk dikelola dan dikembangkan produksinya –setidaknya –untuk menenuhi konsumsi di dalam negeri.

Inilah diantaranya kondisi obyektif dari apa yang sedang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu sergapan dari perang asimetris yang terus menyerbu ke semua penjuru negeri kita dengan cara membanjirnya barang dan pangan impor termasuk manusianya juga menyerbu tanah air kita.

Seperti nakoba dan wanita tuna susila dari yang berklas hingga yang murah meriah tatif jasanya semakin marak dan banyak masuk ke pelosok-pelosok daerah kita.

Kondisi nyata ini mengharuskan semua eksponen bangsa ambil bagian untuk memberi perhatian guna melakukan perlawanan bersama terhadap tekanan serbuan perang asimetris yang menteror dan menggasak kita.

Demikianlah rekevansinya gerakan bela negara perlu kita kobarkan menjadi gerakan perlawanan yang berskala semesta.

Penulis : Yacob Ereste

Editor : Benny Gerungan Kader Bela Negara

17 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here