Penulis : Dahono Prasetyo

Suara Jabar News.Com, – Jadi ada benarnya Munarman mengatakan ada tamu tak diundang dari Jerman ke Petamburan untuk sebuah kepentingan. Entah apa kepentingan itu yang pasti bukan sekedar persoalan kordinasi jalan depan Kedubes Jerman menjadi jalur aksi demo, atau mobil ber-plat nomor diplomatik salah parkir saat mau makan di restoran Padang

Apapun klarifikasinya dari Kedubes, pihak asing khususnya Jerman sudah berhasil “melempar kail”. Terlalu sederhana kalau itu dianggap kelalaian Staff yang berujung permintaan maaf. Ada yang sedang memainkan politik bahasa simbolis, kata Prasetyo Senin (21/12/2020) di Kota Depok

Kail tanpa umpan buru-buru disambar Petamburan sebagai dukungan atas polemik yang sedang mereka alami. Beragam tanggapan bermunculan, sebagian besar fokus pada ke Ge-eR an Munarman dikunjungi bule yang salah satunya cewek kafir.

Sedikit membayangkan dialog mereka lebih banyak nggak nyambung, kalau tidak mau dibilang salah paham. Yang satunya memakai bahasa Inggris, dijawabnya bahasa Arab?

Persoalan penegakan hukum, apapun kontroversinya adalah kedaulatan dalam negeri. Argumentasi politik luar negeri tidak bisa dijadikan alasan penyelesaian keputusan. Karena yang berlaku undang undang Indonesia, bukan Eropa apalagi KUHP Petamburan kan?

Kalaupun pihak Eropa memandang perlu ikut campur, setidaknya ada kepentingan asing yang ikut tersangkut di dalamnya. Apakah penembakan 6 laskar FPI ada yang keturunan Jerman, atau gegara mobil yang dipakai bermerk Ford? Yang kemudian pihak Jerman merasakan kerugian atas kejadian itu?

Jika alibi HAM yang digunakan, alangkah sibuknya orang luar mengurusi persoalan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Membunuh orang yang dianggap tidak bersalah memang menjadi agenda HAM dimanapun. Tapi persoalan “tidak bersalah” yang baru sebatas klaim sepihak, sementara bukti di TKP menyatakan berbeda, belum lagi fakta di penyelidikan nantinya.

Mengapa hanya Kedubes Jerman yang mendadak unjuk tangan atas fenomena Petamburan. Sementara Kedubes Arab Saudi santai santai saja saat salah satu keturunan Nabi masuk penjara.

Kita belum sepenuhnya paham agenda Jerman akan berkembang seperti apa. Untuk itulah kita wajib “kepo” daripada sekedar melihat kulitnya dari klaim Sekjen Petamburan. Ada yang mengkaitkan dengan kerusuhan tambang Nikel di Sulawesi. Atau beredarnya pers release tentang Deklarasi Rakyat Aceh Merdeka tanggal 3 Desember 2020 oleh Yusra Habib Abdul Ghani, PM Aceh Darussalam di tempat pengasingannya Denmark.

Harus diakui, kepulangan Rijik telah sukses memecah konsentrasi di kubu elite politik. Garis demarkasi semakin jelas terbaca, mana kelompok yang mendukung pemerintah, mana gerombolan yang terang terangan tidak menginginkan pemerintahan berlanjut.

Kita bisa nikmati “ledek ledekan” di medsos antar elite berubah sekelas buzzer. Narasi yang dibangun oposisi menisbikan apapun kebijakan yang dilakukan pemerintah tanpa terkecuali. Sementara yang setia pada kemapanan berusaha “menguliti”, membongkar satu persatu kegamangan oposisi. Ini lebih dramatis dibanding situasi Pilpres Prabowo-Jokowi Jilid 2 kemarin. Para pendukung masing-masing Capres bisa jadi pura pura “garang” demi kemenangan. Kini mereka garang beneran.

Catatan pentingnya, mengapa Rijik pulang di saat Pandemi. Itu bukan kebetulan bohirnya akhir tahun ini baru punya dana buat bayarin tiket pesawat. Ada lagi Deklarasi KAMI yang heroik di awal orasinya, belakangan tiarap diam, berbisik pun tidak. Pilkada serentak yang seharusnya lancar, mendadak hingar bingar saat para TimSes belum usai menghitung dana “serangan subuh”, diganggu OTT 2 Menteri sekaligus petinggi Parpol besar.

Pembantaian teroris pada warga sipil di Sulawesi, penangkapan hampir 2 lusin terduga teroris di Sumatera serta terbongkarnya ribuan kotak amal yang ternyata untuk mendanai teroris membuka mata kita bahwa mereka masih ada dan sedang lapar. Entah karena supply dari luar yang sedang terputus, atau justru mereka sedang “promosi”, mempersilahkan siapa saja yang mau menunggangi mereka

Masing-masing pihak sedang memainkan perannya sendiri dalam waktu yang bersamaan.

Sungguh ribet kan membaca narasi ini? Ibarat permainan Jigsaw, inipun sedang dalam rangka mengumpulkan serpihan puzzle yang berserakan. Kepingan yang bila disatukan akan membentuk sebuah jawaban :

Bahwa Pemerintahan periode kali ini sedang dikeroyok dari segala penjuru. Sekuat apa bisa bertahan, Jokowi dan para punggawa setianya, didukung kewarasan yang tersisa dari sebagian warga, menjadi benteng pertahanan terakhir, meski koyak sarat lubang peluru.

Mari kita tetap dalam permohonan terbaik. Berdo’a memohon panjang umur agar bisa lebih lama mengawal NKRI. (Bg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here