Oleh: Andre Vincent Wenas

SJNews.com,- Soal Radikalisme mengarah menjadi Terorisme. Istilah yang diusulkan Presiden Joko Widodo: Manipulator Agama!

Manipulator agama adalah mereka yang memanipulasi agama sebagai alat untuk meraih tujuan egoistik kelompok kepentingannya.

Dulu istilah yang dipakai adalah radikal, dan pahamnya adalah radikalisme, lalu orang/pelakunya adalah radikalis. Dan penggunaan istilah ini rada rancu jadinya.

Denotatif, radikal berasal dari kata radix (bhs.Yunani) yang artinya akar. Sehingga mereka yang radikal adalah sel – sel mereka yang berakar kuat pada keyakinannya. Dan konotasi awalnya positif.

Namun seiring dengan perkembangan kejadian akhir-akhir ini, kata radikal jadi berkonotasi negatif. Lantaran sosialisasi yang cukup gencar untuk melawan gerak dan paham terorisme.

Istilah yang dipakai sebagai cikal-bakal terorisme adalah radikalisme, maka rusaklah makna konotatif radikal yang tadinya positif itu.

Yah, begitulah perkembangan kata dan bahasa dengan segala pemaknaannya. Ia hidup pada jamannya, sangat kontekstual.

Maka setiap membaca suatu teks hendaknya dipahami pula konteksnya. Teks selalu berada di dalam konteks. Sehingga kerja hermeneutika atau penafsirannya jadi adekuat.

Manipulator agama, suatu istilah yang sudah mengandung tuduhan, labelisasi negatif bagi pelakunya. Karena memang begitu sih kenyataannya.

Musuh Pancasila adalah Manipulator Agama?

Bukan agama yang jadi musuh Pancasila. Tapi manipulasi terhadap agamalah yang jadi musuh Pancasila. Itu jelas. Tak perlu dipolemikkan, atau dipolitisir. Buang tenaga dan buang waktu saja.

Realitas politik belakangan ini menunjukkan fakta bahwa isu agama adalah komoditi paling murah (gampangan) untuk menyulut emosi massa.

Ada dua permasalahan disini.

Pertama, masih ada sementara pihak yang hitam hatinya untuk tega memanipulir agama demi kepentingan sektarian atau kepentingan politik sempitnya sendiri. Peristiwa-peristiwa di Karimun, Sampang-Madura, Minahasa Utara, dan beberapa wilayah lain telah menunjukkan fakta ini.

BACA JUGA :   Kapolda Jateng Resmikan Mapolsek Mrebet Polres Purbalingga

Kedua, masih kentara juga betapa ceteknya pemahaman agama, atau katakanlah kadar keimanan sementara kelompok masyarakat. Takut keimanannya rontok gara-gara terpapar dengan hal-hal yang absurd (gedung gereja, lagu, ucapan selamat, dll). Kita tidak bisa mengeneralisir bahwa seluruh rakyat Indonesia masih cetek pemahaman agamanya. Tidak ada survey yang bisa memverifikasi ini.

Maka terhadap kedua hal tadi, perlu diambil langkah taktis dan strategis dalam penanganannya.

Taktis, terhadap setiap gerakan anarkis, pengacau keamanan, dan perusak keharmonisan hidup berbangsa, harus segera ditumpas. Wajib bagi aparatus negara untuk bertindak dengan sigap dan cepat.

Gerakan atau ulah anarkisme seperti ini sangat berbahaya, toxic atau racun bagi konsensus hidup bersama di Indonesia yang bhinneka. Satu saja pembiaran terhadap anarkisme seperti ini, akan menular dan menjalar kemana-mana.

Mengapa begitu? Sebabnya sederhana saja. Bukan di sisi masyarakatnya, tapi ini bisa jadi preseden bagi para penjahat politik lainnya. Mereka merasa bahwa anarkisme dan kesewenangan yang dibungkus agama bisa jadi alat untuk menekan pemerintah pusat dan lawan politik demi memaksakan kehendak egoistik mereka. Sekali dibiarkan, tuman, ketagihan.

Strategis, terhadap kelompok masyarakat yang kenyataannya gampang digosok dengan sentimen keagamaan (padahal cuma manipulasi agama) mereka ini mesti di reedukasi terus. Peran pendidikan oleh para ulama, rohaniwan dan cendekia menjadi imperatif. Panggilan untuk mencerdaskan bangsa. Jangan biarkan saudara-saudara kita ini jadi bebek tolol yang gampang disetir

Namun saat kelompok sumbu pendek seperti ini melihat ketegasan sikap aparat negara dalam menangani anarkisme, mereka juga  akan belajar dengan sendirinya. Seeing is believing. Bahwa negara tidak pernah mentolerir intoleransi dalam keragaman hidup beragama, latar belakang suku, maupun antar golongan.

BACA JUGA :   Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan Walikota Depok Mohammad Idris Tinjau PSBB di Kota Depok

Sekali lagi digaris bawahi di sini bahwa ketegasan sikap, dan kesigapan bertindak dari aparat negara adalah ‘conditio sine qua non’ terhadap jaminan keamanan dan kedamaian.

Musuh Pancasila adalah para manipulator agama. Kalau ada, segera sikat!

12/02/2020

Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

(red-)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here