JAKARTA, SJNews.com,- Feri Rusdiono Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Online Independen (PWOIN) Jakarta menanggapi kejadian belakangan ini, marak aksi kekerasan terhadap jurnalis katanya, Jumat (24/6/2021)

” Ini bisa memperburuk indeks kebebasan pers di indonesia, serta di mata dunia, karena pekerjaan pers itu sangat mulia “

Kekerasan yang dilakukan para oknum aparat, pengusaha,ormas dan warga sipil terhadap jurnalis dapat dikategorikan sebagai sensor terhadap produk jurnalistik, ujarnya

Menurut feri, hal tersebut termasuk dalam pelanggaran pidana karena melanggar Undang – undang.. Adapun ancaman hukuman bagi orang yang menghalangi kemerdekaan pers dalam menjalan tugas jurnalistiknya dalam UU No, 40 tahun 1999 tentang kemerdekaan Pers, bisa terancam penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta, tegasnya..

“Kita tahu banyak kasus kekerasan yang sangat jarang diselesaikan. Karena memang pelakunya ada dari organisasi, pengusaha ada pejabat publik dan juga dari oknum aparat penegak hukum, ketus Feri.

Dugaan kami, itu yang menjadi penghambat, kenapa pihak kepolisian tidak menyelesaikan kasus kekerasan terhadap wartawan.

Padahal, efek dari penyelesaian kasus itu sangat baik untuk menekan kekerasan pada tahun berikutnya,” pungkasnya.

Feri Rusdiono berpendapat perlu ada komitmen dari semua pihak, untuk mendukung iklim kebebasan pers di Indonesia. Antara lain dari aparat, ormas, warga sipil dan terutama dari perusahaan media yang terhadap awak jurnalisnya.

Feri Rusdiono menekankan untuk membuat protokol Keamanan Jurnalis memang
tidak mudah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kebebasan pers.

Oleh karena itu, perlu kekompakan dari seluruh awak media untuk melawan kekerasan terhadap jurnalis di manapun berada.
Disamping itu, bagi semua perusahaan media pers perlu menyiapkan protokol keamanan bagi jurnalis.

BACA JUGA :   Detik Jelang Pelantikan Presiden, Ketua MPR Menjamin Situasi Keamanan Kondusif

“Jikapun teman-teman di medianya tidak ada protokol atau SOP. Prinsip yang paling utama adalah begitu cenderung ada ancaman, maka atasan langsung atau redakturnya harus segera mengambil alih risiko itu, pungkas nya (Bg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here