SENI BUDAYA & SOSIAL

Pentas Teater Bingung Tunggal Ika” dan “Matahari Malam”, Pukau Penonton, Tapi Tak ada Pejabat Yang Nonton

Suara Jabar News, Com (BOGOR) – Isu politik, kehilangan jati diri, dan tangisan histeris Bendera Merah Putih pukau penonton.

Pementasan teater yang spektakuler dan menggugah baru saja usai di Bogor, meninggalkan kesan mendalam bagi ratusan penonton. Bukan sekadar drama biasa, teater pelajar yang dinakhodai Angger Samudera dan Arief Akbar BSA ini berani mengangkat isu-isu krusial tentang kebangsaan, politik, dan hilangnya jati diri bangsa.

Pentas teater di gelar di Gedung Auditorium Sekda Bogor, Sabtu (25/10/2025), dua judul pementasan, “Bingung Tunggal Ika” dan “Matahari Malam”, sukses memukau kurang lebih lima ratus penonton yang terdiri dari pelajar, guru, dan orang tua. Yang istimewa, pertunjukan ini adalah kolaborasi pelajar dari SD hingga SMA, termasuk siswa-siswi Disabilitas Kabupaten Bogor.

“Bingung Tunggal Ika” Mari kita soroti judul pertama, “Bingung Tunggal Ika”, sebuah judul yang provokatif, karya Angger Samudera. Hanya melalui tujuh kali pertemuan latihan, para pelajar ini mampu menghidupkan narasi tentang fenomena bangsa yang kehilangan Jati Diri, diombang-ambingkan oleh Politik dan Kekuasaan.

Bingung Tunggal Ika, klimaksnya benar-benar menggoncang emosi. Ratusan penonton dibuat terhipnotis oleh aktor utama yang diperankan oleh Dinda, siswi SMK Bogor, sebagai seorang anak gila.

BACA JUGA :   "Run Wild" di Jantung Jakarta: Saat Alumni IKJ & Komunitas Peruja 'Berlari Liar' Menolak Batas Konvensi Seni di TIM

Jeda Dramatis

Dalam tangis histeris yang menggema, ia menggenggam dan menancapkan Bendera Merah Putih di tanah, seolah menegaskan: Ia telah menemukan lambang kebangsaan dan tidak mau kehilangan. Adegan ini sontak memecah tepuk tangan kagum dan haru.

Tak kalah memikat, babak kedua menampilkan “Matahari Malam” karya Arief Akbar BSA, sebuah naskah Absurd yang mengisahkan carut-marutnya pemerintahan, perebutan kekuasaan, dan rakyat yang menjadi korban dari politik yang merajalela. Walaupun durasi panjang, para pemeran berhasil tampil penuh semangat dan menjiwai, menorehkan kesuksesan yang diapresiasi baik oleh penonton.

Di tengah hiruk pikuk upaya anak muda melestarikan warisan bangsa, sebuah ironi memilukan terjadi di jantung Kota Hujan. Sebuah pementasan teater yang bertujuan menumbuhkan kecintaan seni pada generasi milenial, bahkan menggunakan fasilitas milik daerah, justru berujung pada kekecewaan.

Auditorium Sekda Bogor menjadi saksi bisu, saat semangat para seniman muda itu kontras dengan kursi-kursi pejabat yang kosong melompong. Ke mana perginya Pemda Bogor.

Apakah ini cerminan sikap apriori pemerintah terhadap perkembangan seni budaya bangsa yang seharusnya mereka jaga. (**)

baca juga

“Run Wild” di Jantung Jakarta: Saat Alumni IKJ & Komunitas Peruja ‘Berlari Liar’ Menolak Batas Konvensi Seni di TIM

Yeni