JAKARTA, Suara Jabar News Com – Gelombang aksi mahasiswa jadi napas demokrasi. Kampus memang ruang kritik. Tapi aktivis 98 Herry Ferdinant mengingatkan: energi perjuangan mahasiswa harus diarahkan ke sasaran yang lebih berdampak.
“Ketika program yang menyentuh rakyat kecil ditolak, justru para perampok kekayaan negara sering luput dari tekanan publik,” ujar Ketua Umum Aliansi Rakyat Anti Koruptor itu, Jumat (19/6/2026).
Bidik Koruptor SDA dan Mafia Ekonomi.
Herry menilai kerugian dari korupsi SDA, mafia minyak, under-invoicing ekspor, oknum bea cukai, hingga penyeleweng solar subsidi jauh lebih besar dan sistemik dibanding program yang sering jadi sorotan.
Setiap rupiah yang dicuri berarti berkurangnya anggaran pendidikan, kesehatan, infrastruktur. “Yang menderita tetap rakyat kecil,” tegasnya.
3 Tuntutan Besar ke Negara
1. Pidana Korporasi. Rampas Aset. Perusahaan terlibat korupsi harus dipidana. Aset hasil kejahatan dirampas dan pelaku “dimiskinkan”.
2. Audit Total. Transparansi laporan pajak, aliran devisa ekspor, dan jaringan bisnis pelaku ilegal.
3. Penegakan Hukum Tegas. Kirim pesan bahwa negara tak beri ruang bagi penjarah kekayaan bangsa.
Mahasiswa punya sejarah panjang sebagai kekuatan moral bangsa. Kritik ke pemerintah penting, tapi keberanian harus diarahkan ke akar masalah: praktik yang menguras kekayaan negara.
“Perjuangan pro-rakyat bukan sekadar menolak program bermanfaat. Tapi memastikan setiap rupiah kekayaan negara kembali ke rakyat, bukan ke kantong segelintir elite,” pungkas Herry Ferdinant, Alumni UPN Veteran Jakarta. Aktifis 98. (**)
