SENI BUDAYA & SOSIAL

“Run Wild” di Jantung Jakarta: Saat Alumni IKJ & Komunitas Peruja ‘Berlari Liar’ Menolak Batas Konvensi Seni di TIM

Suara Jabar News, Com (Jakarta) – Lupakan sejenak keteraturan kota metropolitan! Di tengah hiruk pikuk Jakarta, sebuah ‘pemberontakan’ estetik sedang terjadi di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Komunitas Perupa Jakarta (Peruja) dan Alumni IKJ bersatu dalam pameran “Paradocs #2: Run Wild,” sebuah seruan untuk kembali pada kebebasan batin dan intuisi yang telah lama hilang.

Baca juga : Run Wild” di Jantung Jakarta: Saat Alumni IKJ & Komunitas Peruja ‘Berlari Liar’ Menolak Batas Konvensi Seni di TIM

Dari lukisan hingga patung, karya lintas generasi ini menantang kita untuk melihat seni bukan hanya sebagai arsip, melainkan sebagai peristiwa hidup yang terus bernegosiasi dengan kegelisahan sosial, budaya, dan psikologis. Apa yang terjadi ketika tradisi akademik bertemu dengan energi spontan komunitas, semua itu ada di Galeri Oesman Effendi, tempat teori dan eksperimen bertemu tanpa batas institusi!

Saat Jakarta berlari cepat, sekelompok seniman justru mengajak kita untuk “berlari liar.” Pameran seni rupa bertajuk “Paradocs #2: Run Wild” ini sedang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, menyatukan perupa dari Komunitas Peruja dan Alumni Institut Kesenian Jakarta, atau IKJ.

BACA JUGA :   Pentas Teater Bingung Tunggal Ika" dan "Matahari Malam", Pukau Penonton, Tapi Tak ada Pejabat Yang Nonton

Di Galeri Oesman Effendi, berbagai karya, mulai dari patung hingga lukisan, menampilkan keragaman pendekatan visual yang lintas generasi. Pameran ini bukan sekadar pajangan, melainkan ruang kontemplatif untuk meninjau kembali semangat keberanian dalam berkarya.

Rindi ketua Peruja menerangkan. “pameran ini menjadikannya ruang kontemplatif untuk meninjau kembali semangat keberanian dalam berkarya serta kemampuan seni untuk melampaui batas konvensi.” Katanya.

Kurator Firman Lie menjelaskan, tema ‘Run Wild’ adalah penekanan utama. Di tengah kota yang serba tertata, tema ini mengajak seniman kembali pada kejujuran estetik dan intuisi. Ini bukan tentang kekacauan, melainkan kebebasan batin. Pameran ini juga mengusung konsep para-document, yaitu seni sebagai peristiwa hidup yang bernegosiasi dengan konteks sosial.

“Melalui perspektif ini, karya seni dipahami sebagai peristiwa hidup yang terus bernegosiasi dengan konteks sosial, budaya, politik, dan dinamika psikologis penciptanya.”

Paradocs #2 mempertemukan ekosistem seni yang saling melengkapi: tradisi akademik IKJ dan energi spontan Peruja. Kolaborasi ini menciptakan laboratorium terbuka yang turut menghidupkan kembali peran TIM sebagai pusat percakapan kritis pascarevitalisasi. (by)

baca juga

Pentas Teater Bingung Tunggal Ika” dan “Matahari Malam”, Pukau Penonton, Tapi Tak ada Pejabat Yang Nonton

Yeni