NASIONAL

Waspada !…Politik Adu Domba sering muncul di Ruang Publik

JAKARTA, Suara Jabar News Com – Demokrasi liberal bukan untuk perpecahan, melainkan edukasi membangun kedewasaan berpolitik mm membangun bangsa dan negara kuat bersama rakyat berazaskan PANCASILA.

Frasa “Politik Adu Domba” sering muncul di ruang publik saat membahas perpecahan. Istilah itu bukan baru. Bung Karno, Presiden RI pertama, sudah berkali-kali mengingatkan bahayanya sejak era perjuangan.

1. Asal-usul istilah: “Divide et Impera”. Bung Karno menyebut “politik adu domba” sebagai terjemahan bebas dari _Divide et Impera_ — strategi pecah belah yang dipakai penjajah Belanda. Polanya sederhana: bikin kelompok saling curiga, bersaing, sampai lupa musuh bersama.

Dalam pidato dan tulisannya, Bung Karno bilang penjajah sengaja memisahkan kaum bangsawan vs rakyat, santri vs abangan, Jawa vs luar Jawa, supaya Indonesia sulit bersatu menuntut merdeka.

“Belanda itu pinter adu domba. Dia tahu kalau kita bersatu, dia kalah. Maka dia bikin kita bertengkar sendiri,” kira-kira begitu pesan Bung Karno dalam _Indonesia Menggugat_ 1930.

2. Pesan Bung Karno, Persatuan Kunci Merdeka. Buat Bung Karno, persatuan bukan slogan kosong. Itu syarat mutlak. Karena itu lahir Sumpah Pemuda 1928, lalu Pancasila sebagai rumah bersama untuk beragam suku, agama, dan golongan.

Beliau menekankan 3 musuh yang suka “adu domba”:
1. Sekat kesukuan dan kedaerahan– “Jangan Jawa merasa paling di prioritaskan, jangan luar Jawa merasa disingkirkan. Kita Indonesia.”
2. Sekat agama – Islam, Kristen, Hindu, Buddha diminta jalan bareng. Beda keyakinan bukan untuk berantem.
3. Sekat ideologi – Nasionalis, agamis, komunis di awal kemerdekaan diajak rembuk. Bukan siapa yang paling benar, tapi apa yang bikin bangsa ini jalan.

BACA JUGA :   May Day 2026: Prabowo Bentuk Satgas PHK, Janji Penuhi Harapan Buruh

3. Relevansi 2026 : Kenali Ciri “Adu Domba” Modern
Gaya “adu domba” sekarang berubah wajah. tidak lagi pakai bedil, tapi pakai hoaks, narasi kebencian, dan adu sesama anak bangsa di medsos. Ciri-cirinya mirip peringatan Bung Karno.
Menggeneralisasi, “Semua X itu begini ”,

Menghasut emosi, bikin marah, takut, benci duluan baru cek fakta belakangan.

Menciptakan antara kami vs mereka, padahal musuh bersama bangsa itu kemiskinan, korupsi, ketimpangan.

Bung Karno ingatkan

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Kalau energi bangsa habis untuk saling serang, pembangunan, keadilan, dan kesejahteraan jalan di tempat.

Pelajaran buat kita hari ini

1. Tabayyun dulu, cek fakta sebelum share. Jangan jadi corong adu domba tanpa sadar.
2. Cari titik temu, beda pilihan politik wajar. Tapi Merah Putih tetap satu.
3. Gotong royong bersama rakyat — sembako, pendidikan, kesehatan — lebih penting dari debat kusir.

Bung Karno tidak anti perbedaan. Beliau anti perpecahan yang ditunggangi oleh kepentingan. “Politik adu domba” kuat kalau rakyatnya bersatu, dan mengutamakan Indonesia di atas golongan.

Catatan Redaksi : Benny Gerungan

baca juga

Presiden Jokowi Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya

Yeni

Upacara Penurunan Bendera HUT Ke-79, Jokowi-Iriana Pakai Baju Adat Banjar, Cerminkan Kebaikan

Yeni

Presiden RI Marah Besar kepada Menteri dan Pejabat Daerah Bila Belanja Produk Impor Gunakan Uang APBN dan APBD Ketimbang Buatan Lokal

Yeni