Suara Jabar News Com – BAGI mereka yang tidak (pernah) punya Guru, mereka tidak akan pernah sungguh-sungguh mengenal “hari esok”. Jika ada pekerjaan yang hendak menjawab semua harapan kita tentang hari esok, maka itulah pekerjaan seorang Guru.
Gurulah yang terdepan “menggenggam” semua cita-cita sebuah bangsa dan membawanya di dalam ruang-ruang kelas mereka. Hampir semua bahasa harapan, keluhuran hidup, dan prinsip-prinsip kebaikan menghidupi kerja-kerja mereka sehari-hari. Dengan itulah Guru menjadi merdeka dan memerdekakan.
Baca Juga : https://suarajabarnews.com/2025/11/15/tidak-perlu-pusing-hitung-jejak-karbon-kini-pengguna-transportasi-umum-bisa-cek-otomatis-lewat-sanpay-karya-mahasiswa-uper/
Kondisi pendidikan kita di negeri ini terkesan masih sedang–sedang saja progresinya!”
Pada akhir abad ke-13, kata Guru atau “teacher’ dalam bahasa Inggris sudah dikenal dengan pengertian yang unik. Kata ini bahkan bersumber dari bahasa klasik Jerman. Dengan kata teacher itu, yang dituju adalah: “seseorang yang mengajak dan yang memengaruhi; kegiatan menampilkan sesuatu: melatih, menguji, mengarahkan, dan menandai. Hanya saja, sejak awal abad ke-19, pengertian Guru dan perannyasemakin identik dengan “seorang yang mengajar di sekolah…”(Harper, 2001-2022). Dari sinilah mulai ada reduksi dan praktikalisasi.
Pembebasan inspirasi, akses, dan praksis keGuruan kini semakin kita butuhkan. Dengan itulah pemerdekaan yang sesungguhnya bisa bergerak dan menembus tembok-tembok yang membungkam kreativitas Guru.
GURU demikian dekat dengan “keabadian” tertentu karenadari perannyalah kemanusiaan kita dan kehidupan yang kitajalani menyuguhkan arti-arti tertentu yang terus bertambah. Di tahap awal, kesadaran kita tentang tahu dan tidak tahu, tentang latihan dan percobaan, tentang kesalahan dankebenaran, tentang proses dan pencapaian, semuanya hadirsambung-menyambung.
Di tengah-tengah prosesnya kita membangun pengalaman, mengoleksi pengetahuan dan mendayagunakan minat-bakatkita. Terkadang hasilnya menakjubkan. Seorang anak yang tadinya kelihatan polos ternyata adalah manusia multi-talentayang luar biasa. Sering pula kita saksikan bagaimana dayamanusia demikian kaya, dalam hal: membaca, menghitung, menulis, menggambar, olah-ragawi, dst.
Proses pendidikanlah yang membuat manusia “berbedanasibnya”. Pendidikanlah yang membuat sekolah didirikan.Tetapi, dalam faktanya, semua itu tidaklah otomatis bahwa pendidikan bermutu terselenggara paripurna di sekolah.
Dalam banyak keadaan, maaf, justru sekolah yang secara tidak langsung “menyingkirkan” makna pendidikan itusendiri, yakni ketika anak didik hanya boleh memilih satukondisi —yakni hanya “diajar” dengan cara-cara sepihak.Padahal, mereka mestinya harus lebih membutuhkan ruangdan sikap merdeka dalam perkara “belajar”.
Kita membutuhkan Guru sejati!
Edukator ternama, Dr. Montessori, menegaskan bahwa guru harus memihak kepada kepentingan tumbuh dan “kepentingan belajar” yang hakiki bagi anak-anaknya, yakni ruang-ruang bagi hidupnya spontanitas, percobaan, pengulangan-pengulangan, dan kegembiraan yang tak pernah berhenti dan lelah (Standing, 1957).
Guru terlahir dari “rahim kebudayaan” sebuah bangsa. Selanjutnya, derajat kepahlawanan guru sangat ditentukanoleh masyarakat di mana ia mengabdi dan bagaimana iamenanamkan cita-cita kepada anak-anak bangsanya.
Seorang guru bahkan terkadang tidak memulai pekerjaannya dengan“mengisi” otak dan hati anak-anaknya dengan tumpukan‘mata pelajaran’, melainkan dengan terlebih dahulumenemukan “derita” terpendam yang melilit dan “harapan” yang mengurung kehidupannya. Selanjutnya, seorang guru, masih menurut Montessori, kemudian meletakkan ruang “tumbuh” bagi anak – anaknya disetiap keadaan.
Guru seperti itukah yang kita lahirkan dan saksikan dewasa ini. Jawaban bisa beragam, bahkan tak sedikit yang menyakitkan dan memilukan kita. Memuliakan pendidikan bukankah pekerjaan yang mudah. Hampir semua publikasi internasional, hingga kini, masih menempatkan mutu pendidikan di ‘papan bawah’.
Kita bisa marah dan kesal, tapi langkah nyata jangan terbiasa berhenti di retorika media dan pasal-pasal kebijakan yang rutin di meja-meja birokrasi (pendidikan). Kita mudah menghasilkan beragam konsep dan jargon yang indah setinggi langit, tetapi rentan kehilangan daya gebrak di alam nyata. (**)
Penulis adalah Fellow di Lembaga Kajian Sekolah & Masyarakat.
