PENDIDIKAN

Unsrat dan Tantangan DEKOLONISASI

oleh Reiner Emyot Ointoe

DAERAH, Suara Jabar News.com – Universitas harus berfungsi sebagai lahan subur untuk membangun kembali kepercayaan, meletakkan fondasi masyarakat yang berlandaskan kepercayaan tinggi” _(high trust society)_. — Francis Fukuyama, The Great Disruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order (1999).

Kabar mengenai pergantian pimpinan di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) kembali menjadi perbincangan. Isu beredar cepat di media sosial: Rektor Unsrat Prof. Dr. Berty Octavianus Sompie M.Eng. disebut akan di-PLT-kan. Lebih jauh, disebut pula PLT itu akan dirangkap oleh Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) saat ini, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa,M.Sc. untuk periode 2026-2030.

Kecepatan penyebaran kabar ini melampaui apa yang disebut Paul Virilio sebagai _dromologi_ — logika kecepatan informasi. Di tengah riuh itu, penting menempatkan persoalan Unsrat dalam kerangka yang lebih besar: peran universitas di era krisis global.

Universitas Bukan Sekadar Mesin Produksi

Buku terbaru _Global Higher Education in Times of Upheaval: On Common Goods, Geopolitics and Decolonization (Bloomsbury Academic, 2026) karya Simon Marginson bersama Lili Yang dan Xin Xu, menawarkan lensa untuk membaca kegelisahan ini.

Marginson dkk. menekankan universitas tidak lagi bisa dipahami semata sebagai pabrik tenaga kerja atau pusat riset netral. Universitas adalah common goods— “aset bersama” yang menentukan arah masyarakat.

“vexist not only for markets or states but for societies as a whole”, tidak hanya ada untuk pasar atau negara tetapi untuk masyarakat secara keseluruhan.

Dalam kerangka ini, universitas lokal yang sering dianggap “perifer” justru menjadi ruang penting. Ia menjadi tempat artikulasi pengetahuan alternatif dan resistensi terhadap dominasi epistemik Barat. Dengan kata lain, universitas lokal bukan pelengkap, melainkan bagian konstitutif dari ekologi pengetahuan dunia.

Tekanan Ganda dan Peluang Glokalitas

Penulis juga menyoroti tekanan ganda yang dihadapi kampus: dari negara menuntut loyalitas politik, dari pasar global mendorong komodifikasi pendidikan.

Namun di sinilah peluang muncul. Melalui jaringan solidaritas lintas batas, universitas lokal bisa memperkuat diri sebagai pusat produksi pengetahuan yang berakar pada konteks sosial-budaya masing-masing.

BACA JUGA :   PEWARNA Kota Depok : Guru Honorer 2027 Bakal Dihapus, Munculkan Kekuatiran Nasib Tenaga Pendidik Agama Kristian

George Ritzer menyebutnya glokalitas_ dalam The Globalization of Nothing_ (2007): globalisasi tidak selalu melahirkan keseragaman kosong. Justru di ruang glokal, bentuk-bentuk lokal hidup dan memperkaya arus global.

Unsrat dan Tantangan Dekolonisasi

Dalam konteks Indonesia, Unsrat yang menyandang nama futurolog GSJJ. Ratulangi, sejak 2004 terus diguncang dinamika politik kepemimpinan.Terlepas dari kisruh itu, kerangka common goods memberi peluang: universitas tidak sekadar penyedia tenaga kerja, tetapi juga penjaga kehidupan publik, bahasa, dan budaya lokal.

Dekolonisasi di sini berarti menggeser pusat epistemik. Tidak lagi berpusat pada Barat, melainkan membangun kosmopolitanisme baru yang berangkat dari lokalitas Nusantara.

Unsrat di Manado dan Unhas di Makassar, bersama UI, UGM, ITB, bisa menjadi ruang artikulasi pengetahuan yang berakar pada sejarah kolonial, pluralitas etnis, dan dinamika politik lokal.

Dibanding Chulalongkorn di Thailand atau Universiti Malaya di Malaysia, universitas di Indonesia punya tantangan unik: skala demografis besar dan keragaman budaya ekstrem. Tapi itu justru modal untuk membangun ekologi pengetahuan yang lebih plural.

Marginson dkk. mengajak melihat universitas sebagai laboratorium kosmopolitanisme baru. Pengetahuan lokal tidak hanya bertahan, tetapi memberi arah bagi ekologi global ke depan.

Isu kepemimpinan boleh datang dan pergi. Tapi pertanyaan mendasarnya tetap: apakah universitas diperlakukan sebagai _common goods_ atau sekadar objek tarik-menarik kepentingan?

Jika dijaga dari komodifikasi dan politik praktis, kampus-kampus daerah seperti Unsrat bisa menjadi simpul penting dalam jaringan pengetahuan dunia — bukan sekadar pengikut arus ranking global.

#coverlagu:
Lagu “Unsrat Jaya” karya Miracle Kaligis telah dirilis secara digital dan tayang di kanal YouTube resminya sekitar satu tahun lalu.

#credit foto: Kantor Rektorat Unsrat dengan patung GSJJ Ratulangi, dibangun era Rektor mendiang Prof. Dr. Ir. Lucky Winston Sondakh, MEC. (2004-2008). (JB.Gerungan)

baca juga

Sutarno, SE.MM Sekdis Pendidikan Kota Depok, Penilaian Kenaikan Pangkat Guru Dinilai Melalui Progres Kinerja

Yeni

Mahasiswi Indonesia Didapuk UNICEF Duta Kesehatan Asia Pasifik

Yeni

SMA Negeri 6 Kota Depok Gelar Perpisahan Siswa – Siswi Angkatan XVII Tahun Ajaran 2022/2023

Yeni