Suara Jabar News Com (Bogor) – Agrowisata Gunung Mas, “Satu Juta Pohon” ditanam oleh tangan-tangan yang sama yang selama bertahun-tahun membiarkan hutan dikuliti. Seremoni megah, pidato penuh jargon, dan kamera pers jadi tameng, sementara jejak kerusakan ekologis dibiarkan mengendap tanpa koreksi. Kini, yang menjarah tampil sebagai penyelamat. Ironisnya, lebih dari itu ini penghinaan terhadap nalar publik.
PTPN I Regional 2 korporasi pelat merah yang memegang konsesi Gunung Mas menjual narasi konservasi, padahal selama bertahun-tahun mereka adalah bagian dari masalah: pembukaan lahan, minimnya reforestasi, dan perluasan agrowisata komersial yang mengabaikan daya dukung lingkungan semesta. Kini mereka menanam bibit demi headline, bukan demi hutan.
“Tanam satu juta pohon? Jangan-jangan itu satu juta alasan untuk melupakan dosa-dosa ekologi yang belum dipertanggungjawabkan,” kata Arif Yusran, peneliti tata ruang.
Di mana Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam semua ini pada diam, tak bersuara, seolah-olah program ini layak dipuji, bukan diawasi. Padahal merekalah regulator. Mereka punya mandat konstitusional untuk mengevaluasi dan jika perlu menindak BUMN yang terbukti merusak kawasan penyangga.
Tapi KLHK lebih sibuk hadir di acara tanam pohon, ketimbang hadir di lokasi banjir bandang.
Program ini bukan restorasi; ini operasi citra. Tak ada laporan publik. Tak ada konsultasi warga. Tak ada audit ekosistem. Hanya satu hal yang pasti: pencitraan politik dan korporat tengah ditanam dengan rapi, dan akar masalah deforestasi sistemik, tata guna lahan yang rakus, pembiaran negara dibiarkan tetap tumbuh.
Jika KLHK dan PTPN I menganggap publik akan puas dengan simbolik dan seremoni, maka mereka sedang meremehkan memori masyarakat yang selama ini jadi korban. Korban dari longsor, banjir, dan bencana yang bukan datang dari langit, tapi dari kebijakan yang salah urus.
Pohon bisa tumbuh, tapi kepercayaan publik sudah mati ditebang bersama integritas.
(Charly);
