PENDIDIKAN

Siswa SD Bunuh Diri, Tak Mampu Beli Buku dan Pulpen. Cermin Buruknya Dunia Pendidikan 

Suara Jabar News. Com (Daerah) – Terkait kematian seorang anak SD Yohanes Bastian Roja (10). Yohanes gantung diri usai permintaannya membeli buku dan pena tak dikabulkan ibunda karena tak punya uang.

Semua bermula pada malam Rabu, sehari sebelum kejadian. YBR, siswa kelas 4 SD yang sehari-harinya tinggal bersama neneknya, memutuskan untuk menginap di rumah ibunya, MGT (47 tahun), yang tinggal terpisah di desa tetangga.

Malam itu, YBR membawa satu harapan sederhana selayaknya anak sekolah pada umumnya: ia membutuhkan buku tulis dan pena baru. Harga perlengkapan itu jika ditotal mungkin kurang dari Rp10.000. Namun, bagi sang ibu yang bekerja serabutan sebagai buruh tani dan harus menghidupi lima anak seorang diri, uang sejumlah itu tidak ada di tangannya.

Dengan berat hati, sang ibu tidak bisa memenuhi permintaan putranya. Penolakan itu bukan karena ia tidak sayang, melainkan karena ketiadaan yang nyata. Malam itu berlalu dengan kekecewaan yang mungkin tak terungkapkan sepenuhnya oleh YBR.

1.Pagi yang Kelabu

Keesokan harinya, Kamis pagi, 29 Januari 2026, YBR pamit pulang kembali ke rumah neneknya. Rumah itu bukanlah rumah yang layak; hanya sebuah gubuk bambu reot berukuran 2×3 meter, tempat ia berlindung bersama neneknya yang sudah renta berusia 80-an tahun.

Siang harinya, sang nenek sedang tidak berada di rumah. Dalam kesendirian dan beban pikiran yang terlalu berat untuk anak seusianya, YBR mengambil keputusan fatal. Di bawah pohon cengkeh, hanya berjarak sekitar tiga meter dari gubuk tempat tinggalnya, tubuh kecil YBR ditemukan tergantung kaku. Ia telah pergi untuk selamanya.

II. Wasiat di Atas Kertas

Di lokasi kejadian, polisi menemukan barang bukti yang membuat siapa pun yang membacanya meneteskan air mata: secarik kertas berisi pesan terakhir yang ditulis tangan oleh YBR dalam Bahasa Ngada.

Setelah dicocokkan dengan buku sekolahnya, tulisan itu terkonfirmasi asli. Isinya adalah salam perpisahan yang menyiratkan keputusasaan mendalam:

“Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama menangis, mencari, atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama.”

BACA JUGA :   SPNF-SKB Disdik Kota Depok Gelar Paket C Ikut Ujian

Namun, ada satu kalimat dalam surat itu yang menjadi pukulan batin terberat bagi ibunya. YBR menulis, “Mama galo zee,” yang artinya “Mama pelit sekali.”

Kalimat polos ini menunjukkan betapa YBR tidak memahami kompleksitas kemiskinan yang menjerat ibunya. Ia mengira ibunya enggan membelikan buku, padahal kenyataannya sang ibu benar-benar tak berdaya secara ekonomi. Kesalahpahaman inilah yang diduga memicu rasa tidak dicintai dan depresi pada diri YBR.

III. Potret Buram Kemiskinan Struktural

Mengapa uang Rp10.000 begitu sulit didapat? Investigasi lebih lanjut mengungkap fakta-fakta memilukan tentang keluarga ini:

Ayah yang Hilang: YBR tumbuh tanpa sosok ayah. Ayahnya merantau ke Kalimantan sejak YBR masih bayi (sekitar 11-12 tahun lalu) dan tidak pernah kembali atau memberi nafkah.

Gagalnya Sistem: Keluarga ini hidup sebagai “warga tak terlihat”. Meski sudah 11 tahun tinggal di Ngada, KTP sang ibu masih tercatat di kabupaten lain (Nagekeo). Akibat masalah administrasi ini, mereka luput dari pendataan dan tidak pernah tersentuh bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah, membiarkan mereka larut dalam kemiskinan ekstrem tanpa jaring pengaman.

IV. Tamparan Bagi Negara

Kematian YBR menjadi “alarm keras” bagi pemerintah pusat dan daerah. Menteri Sosial hingga pimpinan DPR menyebut kasus ini sebagai tamparan bagi negara. Tragedi ini memaksa pemerintah daerah setempat bergerak cepat membereskan administrasi kependudukan keluarga korban agar bantuan dan perbaikan rumah bisa segera disalurkan sebuah tindakan yang sayangnya terlambat untuk menyelamatkan nyawa YBR.

Kisah YBR di Ngada bukan sekadar berita kriminal, melainkan sebuah tragedi sosial. Ia mengajarkan kita bahwa di pelosok negeri ini, akses pendidikan bukan hanya soal gedung sekolah, tapi juga tentang kemampuan membeli sebatang pena. YBR pergi dengan membawa kecewa, meninggalkan duka yang menjadi pelajaran mahal bagi kita semua untuk lebih peka terhadap mereka yang terpinggirkan. (**)

baca juga

Guru SD Negri 3 Ratu Jaya Berikan Lembar Ulangan Terhadap Siswi Trauma.Bulying

Yeni

Lagi Mahasiswa UPER Sabet Penghargaan,Bikin Layangan Penghasil Listrik

Yeni

Wisuda Santri Taman Asuh Anak Muslim Ke-XI LPPKS BKPRMI Kota Depok, Tahun Ajaran 2021 – 2022, “Aku ingin Jadi Anak Yang Soleh”

Yeni