JAKARTA, Suara Jabar News. Com– Sinyal merah buat dompet rakyat. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah berpotensi melemah ke level Rp19.000 per Dolar AS akhir Juni 2026. Pemicunya: memanasnya geopolitik Timur Tengah, kebijakan suku bunga tinggi The Fed AS yang masih dipertahankan.
Prediksi itu langsung disorot Dewan Pembina LSM Monitor Aparatur untuk Negara dan Golongan MAUNG.
Dewan Pembina LSM MAUNG Syarif Achmad bilang, pelemahan rupiah bukan cuma soal grafik. Dampaknya langsung nyasar ke dapur warga.
“Kalau rupiah tembus Rp19.000, harga hampir semua kebutuhan pokok pasti ikut naik. Beras, gula, minyak goreng, kedelai, gandum, BBM, sampai obat-obatan. Karena bahan bakunya masih banyak impor, jadi otomatis mahal saat dolar naik”, tegas Syarif, Rabu (10/6/2026).
Daya Beli Anjlok, Inflasi Mengintai
Menurut Syarif, korban pertama adalah masyarakat menengah ke bawah. Uang yang sama nilainya “menyusut”. Beli beras 5 kg dulu cukup, sekarang cuma dapat 4 kg.
“Orang dipaksa hemat lebih ketat, tapi pengeluaran malah nambah. Ini buka pintu inflasi tinggi: harga naik, gaji stagnan. Kalau dibiarkan, kesenjangan makin lebar”, ujarnya.
Dia juga ingatkan tren warga berbondong-bondong simpan dolar. Kalau nggak dikelola, justru bikin tekanan ke rupiah makin parah.
4 Jurus Darurat
Syarif mendesak pemerintah, BI, Kemenkeu jangan main reaktif. Harus ada langkah komprehensif:
1. Genjot Produksi Dalam Negeri. Swasembada pangan, energi jadi kunci jangka panjang. Semakin sedikit impor, semakin tahan rupiah dari guncangan global.
2. Stabilisasi Terukur. BI optimalkan instrumen moneter, intervensi pasar tepat, jaga cadangan devisa biar pelemahan nggak “ngejunam bebas”.
3. Kawal Harga & Distribusi. Pemda dan pusat turun awasi rantai pasok. Cegah penimbunan, permainan harga oleh oknum di tengah situasi.
4. Cintai Produk Lokal, Edukasi literasi keuangan, kampanye “bangga buatan Indonesia”. Kurangi spekulasi dolar yang bikin ekonomi nasional luka.
Rupiah kuat itu cermin fondasi ekonomi dalam negeri yang kuat. Jangan sampai gejolak luar bikin rakyat menderita harga melambung. Pemerintah harus hadir jaga daya beli, pungkas Syarif.
LSM MAUNG komitmen pantau terus kurs rupiah + harga sembako. Mereka janji kawal kebijakan biar berpihak ke rakyat banyak. (Bg)
