DEPOK, Suara Jabar News. Com–Belum lama ini, jagat maya digegerkan dengan beredarnya video viral yang diduga kuat ada aktivitas pesta narkoba di dalam Rumah Tahanan (Rutan) Cilodong, Depok. Tak tinggal diam, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Jawa Barat langsung bergerak cepat dan menjanjikan penindakan tanpa ampun.
Kepala Kanwil Ditjenpas Jabar, Yudi Suseno, menegaskan bahwa institusinya tidak akan melindungi oknum yang melanggar hukum, baik itu Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) maupun petugas internal. Sanksi ganda, pidana dan administratif, sudah menanti para pelanggar.
“Nanti kita tunggu hasil pemeriksaannya. Pasti kena sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya. Makanya kemarin itu Karutan sudah membuat Laporan Polisi (LP). Jika memang ada pelanggaran pidananya, biar diproses hukum,” tegas Yudi saat dikonfirmasi, Selasa (6/10/2026).
Yudi memastikan, institusi tidak akan main-main dalam menegakkan disiplin. “Pokoknya bagi kami tidak main-main. Jika ada pelanggaran hukum, ditindaklanjuti ke proses pidana dengan tetap sanksi administratif sebagai ASN,” tambahnya.
Fakta Mengejutkan di Balik Layar. Kekurangan Personel Ekstrem
Di balik hebohnya kasus ini, terungkap fakta lapangan yang bikin geleng-geleng kepala terkait tantangan besar yang dihadapi Ditjenpas Jabar. Yudi membeberkan angka yang mencengangkan mengenai ketimpangan rasio antara petugas dan warga binaan.
“Dari 27 ribu lebih warga binaan se-Jabar, khusus petugas bidang pengamanan hanya 500-an orang dari 33 Lapas dan Rutan. Dari jumlah seluruh pegawai hanya 3 ribuan,” ungkap Yudi.
Lebih mengejutkan lagi, khusus di Rutan Depok yang kini menjadi sorotan tajam, jumlah penghuninya mencapai lebih dari 1.200 orang, namun ironisnya hanya dijaga oleh 10 orang petugas pengamanan.
“Jabar ini juga rentang kendalinya cukup lumayan cakupan wilayahnya. Dengan segala keterbatasan, kami mohon dukungannya,” pungkas Yudi, memohon dukungan publik di tengah beban kerja personel yang sangat ekstrem.
Netizen Memanas. Desak Karutan Dinonaktifkan.
Keterbatasan personel ini tentu tidak menjadi pembenaran di mata publik. Kolom komentar di berbagai platform media sosial langsung memanas. Para warganet menilai insiden ini adalah bentuk kelalaian fatal dari Kepala Rumah Tahanan (Karutan) dalam mengawasi anak buahnya.
Banyak warganet yang mendesak agar Karutan segera dinonaktifkan dari jabatannya. “Ini harus jadi pelajaran keras untuk semua Karutan se-Indonesia. Jangan cuma napi yang dihukum, pengawasnya juga harus dihukum kalau lalai,” tulis salah satu warganet.
Publik menuntut agar pengelolaan lembaga pemasyarakatan dibersihkan secara total dari praktik pungli dan peredaran narkoba. Mereka berharap ada pembenahan sistemik agar tembok penjara benar-benar menjadi tempat pembinaan, bukan sarang kejahatan.
Kini, bola panas berada di tangan Polres Metro Depok yang tengah mengusut tuntas dugaan peredaran narkoba tersebut, sementara Kanwil Ditjenpas Jabar menyiapkan palu sanksi administratif. Akankah Karutan Cilodong akan dinonaktifkan seperti tuntutan publik. Kita tunggu babak selanjutnya. (Bg)
