OPINI

Visi Korupsinikus di Tahun Pemilu Berlalu : Janji Tinggal Janji, dan Janji Lagi

Esai Satire: Harri Safiari serial “Mutiara Kata ala Korupsinikus”

Suara Jabar News Com — Angin politik berembus di Negeri Konoha Raya (NKR). Spanduk tersenyum lebar, baliho penuh janji, dan suara pengeras dari mobil pick-up kampanye kembali mengudara. Di tengah gegap gempita itu, muncul lagi sosok legendaris, Korupsinikus, kini bergaya seperti konsultan politik spiritual.

Ia hadir di acara “Sarasehan Nasional Calon Pemimpin Masa Depan” dengan tema yang sungguh menggugah iman, dikutip 17 Nopember 2025.

“Korupsi Boleh Saja, Asal Rakyat Bahagia dan Ceria Selalu.”

Dalam pidato pembuka, Korupsinikus mengingatkan para calon wakil rakyat tentang makna sejati dari janji politik.

“Ingat, janji itu bukan untuk ditepati, tapi untuk diulang-ulang sampai orang lupa kapan pertama kali mendengarnya,” ujarnya bijak, disambut tepuk tangan meriah para peserta yang sedang menghitung donasi kampanye.

Di hadapan ratusan kandidat muda, Korupsinikus membagikan tiga prinsip sakral yang ia sebut “Trilogi Korupolitika”:

Janjilah dengan Penuh Keyakinan
“Semakin mustahil janjimu, semakin tampak visioner dirimu. Katakan saja ingin membangun jembatan di atas awan, nanti rakyat akan berdebat sendiri soal teknisnya, dan kamu terlihat sibuk memperjuangkannya.”

Tersenyumlah Saat Dituding
“Kalau ada yang menuduhmu korupsi, jangan marah. Senyum saja. Di negeri ini, senyum lebih kuat dari bukti dan tudingan.”

BACA JUGA :   Mafia Tanah Senantiasa Mengincar, Selalu Ada Disekeliling Kita

Jangan Pernah Lupa sama Rakyat (Saat Kampanye)
“Rakyat adalah sumber inspirasi. Ingatlah mereka setiap lima tahun sekali. Setelah itu, cukup kirimkan ucapan ‘terima kasih atas kepercayaannya’.”

Sesi diskusi pun berlangsung hangat. Seorang calon legislatif muda bertanya polos:

“Guru, bagaimana cara menghadapi wartawan yang terlalu kritis?”

Korupsinikus menjawab dengan gaya seorang negarawan tua:

“Ajaklah mereka makan siang. Bila tak bisa dibungkam dengan logika, bungkus saja dengan nasi kotak dan amplop isi sesuai kebutuhannya, hingga ia lupa bertanya.”

Suasana ruangan meledak oleh tawa yang lebih getir daripada lucu.

Menjelang penutupan, Korupsinikus menatap kamera, tersenyum penuh makna, lalu berkata pelan:

“Ingat, Nak… politik itu seperti penghapus dosa massal. Setelah menang, semua kesalahan masa lalu bisa disulap jadi ‘strategi perjuangan’. Maka, berjanji dan berjanji lagi — karena lupa adalah hak rakyat yang paling dijamin negara.”

Seketika ruangan sunyi. Hanya terdengar suara printer mencetak daftar donatur baru.

Korupsinikus pun menghilang dalam cahaya baliho raksasa, meninggalkan pesan abadi di dunia politik NKR:

“Ucapkanlah sering-sering sejumlah janji seolah mau menepatinya, dan rakyat akan mencintaimu meski tak pernah kau tepati.” (**)

baca juga

Jacob Ereste: “Pemerintah Tak Boleh Abaikan Suara Rakyat”

Yeni

Mafia Tanah Senantiasa Mengincar, Selalu Ada Disekeliling Kita

Yeni

BPN, MAFIA TANAH ATAU PELANGGAR HAM, LALU BAGAIMANA

Yeni