SJNews com (Daerah) – Apa yang melatari aksi demo ini warga, meminta Bupati Pati Mundur, ini penyebabnya.
Unjuk rasa yang digelar pada Rabu ini berawal dari kebijakan Sudewo yang ingin menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sebesar 250% pada tahun 2025.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat intensifikasi PBB-P2 bersama para camat dan anggota Pasopati di Kantor Bupati Pati.
Dilansir dari situs resmi Humas Kabupaten Pati, Bupati Sudewo memaparkan bahwa “penyesuaian pajak” ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah guna mendukung berbagai program pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik.
Sebab dibandingkan dengan Kabupaten Jepara, Kudus, Rembang, penerimaan PBB di Kabupaten Pati hanya sebesar Rp29 miliar. Padahal wilayah Pati secara geografis dan potensi lebih besar.
“Kami saat ini sedang berkoordinasi dengan para camat dan Pasopati untuk membicarakan soal penyesuaian Pajak Bumi Bangunan (PBB). Telah disepakati bersama bahwa kesepakatannya itu sebesar ±250% karena PBB sudah lama tidak dinaikkan, 14 tahun tidak naik,” kata Sudewo.
Sudewo juga menyoroti penerimaan PBB-P2 Kabupaten Pati saat ini hanya sebesar Rp29 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan dengan Kabupaten Jepara yang mencapai Rp75 miliar, Kabupaten Rembang dan Kudus masing-masing Rp50 miliar. Padahal klaimnya, secara geografis dan potensi, Kabupaten Pati lebih besar dari ketiga kabupaten tersebut.
Sudewo melanjutkan, penyesuaian tarif PBB-P2 diharapkan bisa memenuhi kebutuhan anggaran untuk pembangunan infrastruktur jalan, pembenahan RSUD RAA Soewondo, serta sektor pertanian dan perikanan yang membutuhkan dana besar.
Hanya saja, keputusan itu dihujani kritik dan penolakan.
Salah satu yang menolak adalah sejumlah warga yang menamakan diri Masyarakat Pati Bersatu. Mereka inilah yang menyuarakan aksi unjuk rasa pada Rabu (13/08/25).
Sejak pekan lalu, kelompok ini mendirikan posko penerimaan bantuan di depan kantor Bupati Pati. Beragam bantuan mengalir, mulai dari sumbangan 3000 dus air mineral, makanan, buah, hingga hasil pertanian.
Merespons rencana warga tersebut, Bupati Sudewo sempat menjawab bahwa dirinya tidak gentar.
“Siapa yang akan melakukan penolakan, Yayak Gundul? Silahkan lakukan, jangan hanya 5.000 orang, 50.000 orang pun suruh kerahkan, saya tidak akan gentar. Saya tidak akan mengubah keputusan itu, tetap maju,” ucapnya dalam video yang viral.
Bupati Pati batalkan kenaikan PBB-P2
Tantangan Bupati Sudewo rupanya diterima kelompok Aliansi Masyarakat Pati Bersatu.
Mereka bahkan menyuarakan Sudewo untuk lengser dari jabatannya karena dianggap sudah tidak layak memimpin Kabupaten Pati.
Untuk itu, mereka melakukan aksi unjuk rasa pada 13 Agustus yang dihadiri ratusan ribu orang itu.
“Kami juga menuntut Bapak Bupati Sudewo untuk dilengserkan dari bupati Pati, karena sudah tidak layak untuk memimpin di Kabupaten Pati,” kata perwakilan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, Supriyono.
Selain menuntut Bupati Sudewo mundur, aliansi warga juga menyatakan penolakan atas kebijakan lima hari sekolah, menolak renovasi alun-alun Pati dengan anggaran Rp2 miliar, dan pembongkaran total Masjid Alun-alun Pati yang bersejarah.
Termasuk menolak proyek videotron sepanjang enam meter dan tinggi lima meter yang menelan biaya Rp1,39 miliar.
Besarnya suara perlawanan dari masyarakat, pada Jumat (08/08), Bupati Sudewo resmi membatalkan kenaikan PBB-P2 sebesar 250%. Pengumuman itu disampaikan di Pendopo Kabupaten Pati yang didampingi Kajari, Dandim 0718 Pati, dan Kapolresta Pati.
Dalam laman resmi Humas Kabupaten Pati, pembatalan itu dilakukan demi menciptakan situasi yang aman, kondusif, dan mendukung kelancaran perekonomian serta pembangunan daerah.
Namun, Sudewo mengakui, keputusan tersebut berdampak pada tertundanya beberapa rencana pembangunan yang telah masuk dalam perubahan anggaran 2025.
“Beberapa pekerjaan infrastruktur jalan hingga perbaikan plafon RSUD Suwondo yang rusak terpaksa ditunda. Termasuk rencana penataan alun-alun, yang semula akan dibuat lebih nyaman dan estetis, juga batal dikerjakan tahun ini,” ujarnya.
Kenaikan PBB-P2 batal, mengapa warga masih berdemo?
Seorang inisiator aksi unjuk rasa, Ahmad Husein, bilang tujuan demonstrasi ini sudah final dan tak bisa ditawar lagi, yakni menuntut agar Bupati Sudewo lengser.
“Target tuntutan massa adalah bupati lengser. Kalau enggak lengser hari ini, kami tetap bertahan di sini”, ungkapnya.
Setelah berunjuk rasa warga bubar dwngan menyisakan sampah yang berserakan dijalanana saya kendaraan mobil polisi dibakar warga masyakat.(**)
